|
Sekolah Unggulan
versus Kaum Marginal
(Catatan reflektif tentang
kondisi dunia pendidikan)
Oleh: Yoseph E.
Ikanubun, SPd*
SEJUMLAH tokoh
pendidikan ternama mulai dari Paolo Freire, Ivan Illich, Antonio
Gramsci sampai pada Romo Mangunwijaya telah menyampaikan
pemikiran-pemikiran kritisnya tentang realitas pendidikan. Bahwa
pendidikan hanya ditakdirkan untuk melayani dominasi atau
reproduksi bentuk-bentuk dominasi dari sebuah kekuasaan, telah
diuraikan secara panjang lebar oleh Freire dalam sejumlah
bukunya.
Menelaah sejumlah
karyanya, tampak bagaimana Freire mengkritisi tentang peran
reproduksi sekolah atau pendidikan sistematis terhadap ideologi
dominan atau ideologi yang berkuasa. Tugas utama pendidikan
sistematis adalah reproduksi ideologi kelas dominan, reproduksi
kondisi-kondisi untuk memelihara kekuasaan mereka atau kekuasaan
kaum borjuis. Namun tepatnya karena hubungan antara pendidikan
sistematis sebagai suatu subsistem dengan sistem sosial
merupakan hubungan pertentangan dan kontradiksi timbal balik.
Gambaran Freire
tentang kondisi pendidikan di Brazil ini tak jauh berbeda ketika
masa pemerintahan orde baru. Instrumen-instrumen pendidikan
seperti kurikulum, pengajar maupun siswa berada dalam sebuah
sistem yang berfungsi untuk mengamankan kekuasaan yang ada. Maka
tak heran jika fungsi pendidikan bukan lagi untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, melainkan sebuah bentuk indoktrinasi untuk
melanggengkan pemerintahan yang berkuasa.
Terhadap kondisi
dunia pendidikan seperti ini, tokoh pendidikan asal Brazil ini
memaparkan sejumlah solusinya. Bahwa ketika bicara reproduksi
sebagai tugas kelas-kelas dominan, maka ada kemungkinan tugas
tandingan terhadap reproduksi ideologi dominan. Kedua tugas ini
bersifat dialektik, yang pertama adalah tugas reproduksi dan
kedua adalah tugas oposisi pendidikan. Tugas oposisi pendidikan
ini adalah bagaimana mengembalikan fungsi pendidikan agar tidak
menjadi pelayan dari sebuah kekuasaan dan dinikmati oleh
golongan tertentu seperti kaum borjuis melainkan kembali ke
cita-citanya untuk membangun manusia yang seutuhnya.
Tantangan yang
kemudian muncul dalam menjalankan tugas oposisi pendidikan ini
adalah bagaimana memperjuangkan transformasi revolusioner
masyarakat borjuis untuk membangun masyarakat sosialis. Revolusi
perlu menciptakan dan membantu lahirnya masyarakat baru dan
proses kelahiran masyarakat baru ini ada di dalam pendidikan
revolusioner. Ketika revolusi meraih kekuasaan itu merupakan
bantuan fantastik yang diperlukan untuk membaharui sistem
pendidikan. Satu hal yang menjadi pekerjaan sekarang adalah
melawan sistem borjuis melalui korps revolusioner untuk mencipta
melalui pendidikan.
Akhirnya semuanya
terlihat berbeda karena jika di dalam sistem borjuis tugas utama
pendidikan adalah mereproduksi ideologi borjuis, maka ketika
revolusi berkuasa tugas utama pendidikan adalah menciptakan
ideologi baru dan fondasi baru. Pada tingkat kita yang bukan
para idealis dalam pengertian filosofis, kita percaya jenis
pendidikan kedua tidak bisa didekritkan bila masyarakat baru
yang sesuai dengannya belum terwujud.
Pada tahap belum ada
masyarakat baru, yang ada hanya masyarakat transisi dan
pendidikan baru yang revolusioner belum ada. Pada tahap ini,
pendidikan borjuis tidak bisa lagi diterima karena tidak ada
hubungannya dengan pembentukan masyarakat baru yang
revolusioner. Kita belum bisa memiliki pendidikan baru karena
kita masih kekurangan ruang dan waktu untuk menciptakannya. Hal
inilah yang menjadi pekerjaan bersama untuk menyelamatkan
pendidikan dari bentuk sistematis yang mereproduksi ideologi
dominan sekaligus melawan kepentingan kaum borjuis.
Pemikiran, kritik
dan sebuah solusi yang telah ditawarkan oleh Freire di atas jika
dicermati dengan seksama, ternyata begitu dekat dengan realitas
dunia pendidikan kita. Lihatlah bagaimana megahnya kehadiran
sejumlah sekolah dan perguruan tinggi unggulan yang hanya mau
menampung pelajar/mahasiswa terbaik yang unggul dari segi materi
maupun intelektual. Lantas jika semua sekolah/perguruan tinggi
akhirnya menggunakan lebel unggulan atau diunggulkan bahkan
mengunggulkan diri, akan ke manakah kaum marginal atau kaum
pinggiran ini mengenyam pendidikan? Karena yang akan terjadi
adalah, mereka yang berduit dan memiliki standar-standar
penilaian tertentu yang tertera dalam sebuah kertas bernama
ijazah-lah yang bisa masuk dalam dunia pendidikan formal. Ke
dalam sekolah dan perguruan tinggi, yang semua sudah
diunggulkan. Lantas pihak mana atau institusi sekolah mana yang
akan menerima mereka, kaum marginal ini. Haruskah dibuat sekolah
non unggulan yang secara faktual ditempati oleh mereka yang
miskin secara ekonomi, rendah secara intelektual dan buta akan
tekhnologi.
Ironisnya, dalam
kondisi ini pemerintah seolah-olah melegalkan pertarungan yang
tidak seimbang antara kaum borjuis dengan marginal dalam
mengenyam pendidikan lewat slogan, Pendidikan itu Mahal.
Ditambah lagi dengan kehadiran sekolah dan perguruan tinggi
unggulan ini, pemerintah seolah-olah lupa dengan berbagai
program pendidikan murah lewat paket-paket belajar, sekolah
terbuka dan sejenisnya yang memang menjadi konsumsi kaum
marginal. Maka lengkaplah sudah sebagaimana yang dikemukakan
sejumlah praktisi pendidikan, bahwa pendidikan hanya milik kaum
borjuis.
Dalam konteks yang
lebih sempit untuk wilayah kota Tomohon misalnya, lahir sekolah
unggulan membuat strata tersendiri di kalangan pelajar.
Lagi-lagi yang berduit dan intelek yang mampu masuk ke sekolah
tersebut. Padahal sebagaian besar warga Tomohon bermata
pencarian petani yang logikanya tak mampu memenuhi biaya sekolah
unggulan tersebut. Bukankah tugas pendidikan adalah untuk
menjadikan yang belum tahu menjadi tahu, yang miskin ilmu jadi
kaya ilmu? Lantas jika semua sekolah merupakan standarisasi
nilai dalam menerima murid barunya (bahkan mungkin sejak tingkat
Sekolah Dasar), lembaga pendidikan mana yang harus bertugas
memberi ilmu bagi mereka yang belum memenuhi standar-standar
tersebut? Ataukah memang harus dibuat Sekolah Non Unggulan untuk
menampung peserta didik yang memang tidak unggul baik secara
materi maupun intelektual ? Sekolah non unggulan dengan biaya
seadanya, kemampuan siswa seadanya dan kualitas seadanya.
Jauh sebelum
digembar-gemborkan sebagai Kota Bunga, Tomohon dikenal sebagai
Kota Pendidikan. Maka sudah menjadi tugas dan tanggungjawab dari
duet kepemimpinan Walikota Jefferson SM Rumajar SE dan Wakil
Walikota Linneke Syenie Watoelangkouw untuk menyelamatkan dunia
pendidikan di kota ini dari dikotomi unggulan dan non ungglan.
Sehingga setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang
layak. (***)
* Penulis:
Alumni Jurusan
Biologi
Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas
Negeri Manado
|